MALAPETAKA BORNEO! Kalimantan Jadi Lautan Api, Puluhan Ribu Titik Api Kepung Rumah Terakhir Orangutan!
25.812.699 hektare area hutan—atau sekitar 60,2% dari total rumah terakhir Orangutan Kalimantan—kini telah hangus dan luluh lantak dilalap api.
BERITABETULBETUL.COM, YOGYAKARTA – Kalimantan sedang tidak baik-baik saja. Pulau yang dulunya menjadi paru-paru dunia kini berubah mencekam menjadi lautan api dan kepungan asap pekat. Berdasarkan data investigasi terbaru dari Geopix yang dirilis 3 September 2026, situasi di lapangan telah mencapai titik nadir yang sangat mengerikan bagi kelangsungan hidup manusia dan satwa liar, terutama Orangutan Kalimantan.
Angka Kematian Ekosistem yang Mengerikan
Bukan sekadar isu, data resmi pemerintah dari SiPongi menunjukkan lonjakan titik api (hotspot) yang naik secara ekstrem sepanjang Agustus 2026, mencapai 17.375 titik api.
Lebih gilanya lagi, dari total seluruh titik api di Kalimantan, 78,5% (17.865 titik) berada TEPAT di dalam jantung habitat orangutan! Dampaknya? Sebanyak 25.812.699 hektare area hutan—atau sekitar 60,2% dari total rumah terakhir Orangutan Kalimantan—kini telah hangus dan luluh lantak dilalap api.
Ancaman Nyata Kepunahan: Jeritan dari Jantung Hutan
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menegaskan bahwa bencana ini dipicu oleh kombinasi fatal antara krisis iklim dan fenomena Godzilla El Niño yang diprediksi BMKG baru akan berakhir Januari tahun depan.
"Doa dan solidaritas kami untuk masyarakat yang menderita sesak napas. Krisis ini adalah pukulan terberat. Kita semua telah gagal memitigasi bencana ini, bahkan mungkin masih mencoba bermain api dengan berbagai upaya pelemahan perlindungan hutan," ungkap Annisa dengan nada bergetar.
Berdasarkan analisis Matriks Kerentanan Geopix, wilayah Muller-Schwaner, Western Schwaner, dan Seruyan-Sampit (Kuadran II) kini berada dalam status Kritis Darurat Pemadaman karena populasi yang kecil harus bertaruh nyawa melawan kepungan api yang masif. Sementara kantong populasi penting seperti Rungan River, Katingan, dan Gunung Palung (Kuadran IV) harus segera dibentengi sebelum terlambat.
Omon-Omon Harus Berhenti: Seruan Tindakan Tegas!
Geopix mendesak pemerintah untuk segera melakukan "reset" PHVA (Population and Habitat Viability Assessment) karena data konservasi lama dianggap sudah tidak relevan akibat kerusakan masif ini.
Publik kini menagih ketegasan. Perlindungan hutan tidak boleh hanya sekadar janji manis atau omon-omon di atas kertas. Geopix menuntut penegakan hukum tanpa kompromi, sikat habis korporasi nakal yang terlibat atau lalai, dan segera susun Rencana Aksi Darurat Penyelamatan sebelum Orangutan Kalimantan benar-benar hanya menjadi sejarah di buku dongeng anak cucu kita.
(Tim Redaksi BeritaBetulBetul.Com)