RATUSAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN MANBAUL HIKAM, TANGGULANGIN, SIDOARJO, KERACUNAN SETELAH MENGONSUMSI MBG, SENIN (1/9/2026). (FOTO: ISTIMEWA)
BERITABETULBETUL.COM, SIDOARJO – Sebuah petaka mengerikan mengguncang bumi Sidoarjo! Niat mulia mendapatkan asupan nutrisi sehat lewat program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG), ratusan santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo justru harus dihadapkan pada maut. Hari Senin (1/9/2026) berubah menjadi malam penuh horor dan kepanikan massal setelah ratusan santri bertumbangan akibat diduga keracunan makanan!
KRONOLOGI MAUT YANG MENCEKAM: DARI RUANG MAKAN KE RUANG DARURAT
Petaka dahsyat ini meledak sesaat setelah para santri melahap paket makanan yang dipasok oleh pihak ketiga, SPPG Kalitengah. Tidak butuh waktu lama, hidangan yang seharusnya menguatkan tubuh itu justru berubah menjadi racun yang menggerogoti fisik mereka.
• BAKDA ASAR: Tanda-tanda petaka mulai tampak. Jeritan dan keluhan sakit mulai terdengar bersahut-sahutan di dalam pondok. Ratusan santri secara massal mendadak terserang mual hebat, pusing tak tertahankan, hingga muntah-muntah parah.
• BAKDA MAGRIB: Situasi kian tak terkendali dan masuk fase kritis! Kompleks pondok pesantren yang biasanya tenang seketika berubah mencekam layaknya jalur evakuasi perang. Sirine puluhan mobil ambulans meraung-raung membelah kegelapan malam Sidoarjo, berkejaran dengan waktu demi menyelamatkan nyawa para santri yang kian melemah.
HOSPITAL UPDATE: RATUSAN KORBAN DI LARIKAN KE 4 RUMAH SAKIT!
Data sementara yang dihimpun tim redaksi sedikitnya 120 santri telah dievakuasi secara dramatis ke sejumlah rumah sakit besar di Sidoarjo:
RSUD Sidoarjo: 80 santri (Kondisi Overload!)
RS Siti Hajar: 19 santri
RS Delta Surya: 12 santri
RS Pusura Gelam: 9 santri
TNI JAGA KETAT, TANGIS ORANG TUA PECAH DI GERBANG
Saat proses evakuasi, atmosfer di lokasi kejadian sangat mencekam dan diselimuti ketegangan tinggi. Personel TNI bersenjata lengkap dikerahkan untuk menjaga ketat area pondok pesantren guna mengamankan situasi yang serba tidak pasti. Sementara itu, di luar gerbang utama, tangis haru, cemas, dan histeris pecah dari puluhan orang tua serta wali santri. Mereka hanya bisa berdiri gemetar dan menggantungkan doa terbaik demi keselamatan buah hati mereka.
Publik kini menuntut pertanggungjawaban: Apa yang sebenarnya terjadi dengan standarisasi dan higienitas dapur penyedia makanan tersebut? Mengapa program nasional ini bisa kecolongan hingga mengancam ratusan nyawa anak bangsa?
Mari kita rapatkan barisan! Kirimkan solidaritas dan doa terbaik kalian untuk kesembuhan para santri di kolom komentar di bawah ini.