Jeka Saragih Kalah dari Atlet Malaysia, Tokoh Pemuda Sumut Edoy Tamba Sentil Mediagram ‘Asbun’ yang Giring Opini Hujatan
Buat mediagram yang menggiring opini buruk, bertobatlah. Pelajari lagi ilmu dan kode etik jurnalistik. Media itu berfungsi mengedukasi, bukan menggiring caci maki.
BERITABETULBETUL.COM, MEDAN - Kekalahan Jeka Saragih dari petarung asal Malaysia, Amarul, dalam ajang Byon Combat Showbiz memicu gelombang reaksi di jagat maya. Kekecewaan warganet Indonesia tidak hanya melahirkan hujatan kepada atlet, tetapi juga melebar menjadi sentimen antarnegara.
Fenomena ini memantik perhatian serius dari Tokoh Pemuda Sumatera Utara yang juga pengamat dunia bela diri, Edison Tamba atau yang akrab disapa Edoy. Ia menilai, badai hujatan ini terjadi akibat minimnya pemahaman publik terhadap regulasi pertandingan, diperparah oleh akun-akun media sosial (mediagram) yang asal bunyi (asbun) demi mengejar tayangan (views).
“Wajar kita maklumi kekecewaan netizen, kita tetap menghormati kepedulian mereka. Namun, banyak mediagram saat ini hanya memunculkan hasil akhir tanpa proses edukasi. Ini menggiring opini publik ke arah caci maki,” ujar Edoy di Medan.
Klarifikasi Aturan Clinch dan Pengorbanan Jeka
Edoy meluruskan dua poin penting yang luput dari pandangan masyarakat. Pertama, Jeka Saragih telah melakukan pengorbanan besar, termasuk memangkas berat badan demi naik ke ring memenuhi tantangan Amarul.
Kedua, ada kesalahpahaman fatal mengenai aturan Kickstriking yang digunakan oleh Byon Combat. Aturan ini berbeda dengan Muay Thai tradisional karena membatasi durasi kuncian (clinch) agar laga tetap dinamis pada pertukaran serangan berdiri (stand-up striking).
“Saat Amarul melakukan clinch, Jeka yang memahami regulasi internasional mengira wasit akan memisahkan atau tidak ada serangan susulan karena melanggar batasan aturan. Akibatnya, Jeka tidak menutup ruang pertahanan dirinya,” jelas Edoy.
Demi Menjaga Hubungan Baik dengan Cellos
Lebih lanjut, Edoy membongkar fakta di balik layar. Sejak awal, ia sudah menyarankan Jeka untuk menolak tantangan tersebut karena perbedaan kelas. Namun, Jeka tetap maju demi menghormati sejarah hubungannya dengan sang promotor, Cellos.
“Jeka itu sudah seperti adik saya sendiri. Di awal call out, dia cerita bahwa sejarah perjuangannya bersama Cellos sangat mendalam. Dia memilih ikut membesarkan acara ini karena Cellos sangat baik kepadanya,” ungkap Edoy.
Edoy juga melihat Jeka sengaja menahan intensitas serangannya agar pertandingan berjalan menghibur dan tidak merusak citra acara, meski pukulan awalnya sempat mendarat telak di tubuh Amarul. Sayangnya, momentum kelonggaran itu justru dimanfaatkan penuh oleh lawan.
Sentilan Menohok untuk Mediagram Pembuat Konten
Menutup keterangannya, Edoy memberikan teguran keras kepada pemilik akun mediagram yang kerap memotong video pertandingan tanpa konteks yang utuh. Ia mengingatkan bahwa fungsi media adalah memberikan informasi dan edukasi, bukan memancing kebencian demi interaksi media sosial.
“Buat mediagram yang menggiring opini buruk, bertobatlah. Pelajari lagi ilmu dan kode etik jurnalistik. Media itu berfungsi mengedukasi, bukan menggiring caci maki. Kurangilah sifat egois mengocok kata-kata demi klimaks kepuasan pribadi,” pungkas Edoy.
(Tim Redaksi BeritaBetulBetul.Com)